Senin, 02 November 2015

Teknologi pembelajaran di Perguruan Tinggi

BAB III
PAEMBAHASAN


3.1 Tujuan E-Learning di Universitas Mercu Buana
E-Learning atau Kuliah Online Universitas Mercu Buana bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Dengan Kuliah Online ini memungkinkan Mahasiswa belajar tanpa batas waktu dan tempat. Kami menyebutnya Learning Without Limits

3.2 sejarah E-leraning di Universitas Mercu Buana
E-learning mulai diterapkan di Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) yang diawali dari Fakultas Teknologi Informasi pada tahun 2009. Selanjutnya diberlakukan diseluruh fakultas yang ada. Sistem e-learning yang telah diimplementasikan adalah Learning Management System (LMS) berbasis web yang dikembangkan secara mandiri (custom development). Sejak implementasi dilakukan, belum pernah dilakukan studi formal mengenai kesiapan (readiness) sumber daya (mahasiswa, dosen, dan staf) yang terlibat, sehingga belum diketahui sampai sejauh mana pendayagunaan e-learning di UMBY. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap sistem e-learning yang digunakan, untuk mendapatkan rekomendasi guna pengembangan e-learning selanjutnya. Instrumen evaluasi yang digunakan dikembangkan dari hasil penelitian Aydin dan Tasci; Kapp; Watkins, Leigh, dan Trainer; dan Haney yang disesuikan dengan kondisi yang ada di UMBY. Instrumen yang dihasilkan terbagi menjadi lima faktor yaitu teknologi, inovasi, pengembangan diri, dan konten dengan mempertimbangkan konstruksi sumber daya, keterampilan, dan sikap pada masing-masing faktor. Selanjutnya instrumen tersebut dikelompokkan berdasarkan tiga komponen yaitu proses, produk, dan orang. Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap item-item disetiap faktor. Penelitian ini mengusulkan sebuah model e-learning readiness (ELR), model tersebut kemudian diimplementasikan di UMBY. Berdasarkan hasil pengujian, model tersebut dapat diterima dan dapat digunakan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai implementasi e-learning. Model ini dapat diuji untuk diterapkan pada institusi pendidikan yang lain walaupun dengan kondisi e-learning yang tidak persis sama. Hasil survei menunjukkan bahwa UMBY sudah siap untuk melaksanakan e-learning, tetapi dengan beberapa perbaikan pada masing-masing faktor. Dengan kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem e-learning di UMBY belum perlu dilakukan reengineering.

3.3 Sistem pembelajaran di Universitas Mercu Buana
Sistem pembelajaran e-Learning dilakukan dengan pertemuan di ruang kelas (tatap muka) sebanyak 5 kali , dan tidak terbatas ruang dan waktu melalui internet sebanyak 9 kali pertemuan, 1 kali Ujian Tengah Semester (UTS) dan 1 kali Ujian Akhir Semester (UAS).

3.4 Kelebihan dan kekurangan e-learning secara umum
Kelebihan e-Learning
Dalam bentuk beragam, e-Learning menawarkan sejumlah besar keuntungan yang tidak ternilai untuk pengajar dan pelajar.

  • Pengalaman pribadi dalam belajar : pilihan untuk mandiri dalam belajar menjadikan siswa untuk berusaha melangkah maju, memilih sendiri peralatan yang digunakan untuk penyampaian belajar mengajar, mengumpulkan bahan-bahan sesuai dengan kebutuhan.
  •   Mengurangi biaya : lembaga penyelenggara e-Learning dapat mengurangi bahkan menghilangkan biaya perjalanan untuk pelatihan, menghilangkan biaya pembangunan sebuah kelas dan mengurangi waktu yang dihabiskan oleh pelajar untuk pergi ke sekolah. 
  • Mudah dicapai: pemakai dapat dengan mudah menggunakan aplikasi e-Learning dimanapun juga selama mereka terhubung ke internet. e-Learning dapat dicapai oleh para pemakai dan para pelajar tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu. Kemampuan bertanggung jawab : Kenaikan tingkat, pengujian, penilaian, dan pengesahan dapat diikuti secara otomatis sehingga semua peserta (pelajar, pengembang dan pemilik) dapat bertanggung jawab terhadap kewajiban mereka masing- masing di dalam proses belajar mengajar.
Kekurangan e-Learning
Beberapa kekurangan yang dimiliki oleh pemanfaatan e-Learning:

  • Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan antar pelajar itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar.Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
  •   Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
  • Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (Information, Communication and Technology). Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer).
  • Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan tentang internet.
  •  Kurangnya penguasaan bahasa komputer
33.3.Elemen e-learning
Menurut: http://www.m-edukasi.web.id/2012/11/konsep-dasar-e-learning.html Berbagai elemen yang terdapat dalam sistem e-Learning adalah :
a.               soal-soal : materi dapat disediakan dalam bentuk modul, adanya soal-soal yang disediakan dan hasil pengerjaannya dapat ditampilkan. Hasil tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur dan pelajar mendapatkan apa yang dibutuhkan.
b.              Komunitas : para pelajar dapat mengembangkan komunitas online untuk memperoleh dukungan dan berbagi informasi yang saling menguntungkan.
c.               Pengajar online : para pengajar selalu online untuk memberikan arahan kepada para pelajar, menjawab pertanyaan dan membantu dalam diskusi.
d.              Kesempatan bekerja sama : Adanya perangkat lunak yang dapat mengatur pertemuan online sehingga belajar dapat dilakukan secara bersamaan atau real time tanpa kendala jarak.
e.               Multimedia : penggunaan teknologi audio dan video dalam penyampaian materi sehingga menarik minat dalam belajar.


SUMBER :